waw 12 RS sediakan klinik pengobatan tradisional

Selasa, 19/10/2010 12:13:45 WIB
Oleh: Rahmayulis Saleh
JAKARTA: Pemerintah menyiapkan sedikitnya 12 rumah sakit di sejumlah provinsi yang menyediakan klinik herbal dan jamu, untuk mendekatkan masyarakat pada pengobatan jamu, selain obat kimia.

”Kita berupaya agar jamu bisa menjadi salah satu pilihan untuk pengobatan berbagai penyakit dan para medis tidak khawatir untuk merekomendasikannya kepada pasien,” kata Hardhi Pranata, Ketua Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI), hari ini di Jakarta.

Dia mengatakan ke-12 RS yang ada klinik jamu tersebut. a.l. RSK Dharmais, RSCM, RS Persahabatan, RS Dr. Soetomo Surabaya, RS Shanglah Bali, RS Sardjito Yogyakarta, dan RS Hasan Sadikin Bandung.

Untuk meningkatkan penggunaan jamu agar bisa melengkapi obat-obatan kimia yang sudah biasa diresepkan, pemerintah akan melakukan pendidikan dan pelatihan kepada dokter dan apoteker serta tenaga medis lainnya, supaya jamu bisa diresepkan untuk pasien.

Pendidikan dan pelatihan tersebut membutuhkan waktu minimal 50 jam dan akan dididik oleh Ikatan Dokter Indonesia bekerja sama dengan Kelompok kerja nasional tanaman obat Indonesia (Pokjanas TOI). Setelah itu para medis akan mendapatkan surat registrasi agar bisa meresepkannya.

Untuk tahap pertama akan dilakukan pada akhir Oktober ini di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Kemenkes di Tawangmangu, Jawa Tengah.

”Lulus dari pelatihan ini, para dokter tersebut mendapatkan surat registrasi untuk bisa meresepkan jamu sebabai obat bagi pasien,” kata Hardhi.

Sementara itu Marzan Azis Iskandar, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan pihaknya akan membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap obat-obatan herbal dan jamu melalui proses saintifikasi jamu.

”Yaitu memberikan bukti ilmiah bahwa jamu tersebut terbukti bisa mengobati suatu penyakit,” ujarnya. Selama ini untuk menjadikan jamu sebagai salah satu produk scientific atau fitofarmaka, diperlukan waktu yang lama untuk menjalani uji klinis dan memakan biaya yang besar untuk riset.

”Sekarang ada teknologi canggih yang bisa memotong proses tersebut menajdi lebih pendek, dengan cara saintifikasi jamu, biayanya juga lebih murah. Tapi untuk mencapai hal tersebut, perlu kerja sama semua pihak baik dari pemerintah, swasta dan para ahli mencari solusi yang tepat,” ujarnya. (rni)

sumber: http://web.bisnis.com/senggang/1id215482.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: